Arsip untuk kategori ‘Tentang Belajar Bisnis’
Ini aja udah asyik, apalagi mulai mendapatkan untung dari hal ini
Berbisnis atau berdagang, tidaklah mudah, harus mencari yang pas buat kita, tetapi mencari yang pas itu tidak dari buku atau pergi ke perpustakaan. Mencoba langsung, mengimplementasikan langsung ide bisnis kita, merupakan cara yang paling pas untuk mengerti dan merasakan bisnis. Intinya adalah segera mulai dan nikmati.
Mencari yang pas, sudah tidak berlaku bagi yang sudah terlatih indera bisnisnya, karena semua yang dipegang pasti laku.
Berbisnis atau dagang ini seperti menyelesaikan tantangan puzzle atau semacamnya, dan anda bisa menyelesaikannya, dan selalu bisa menyelesaikannya, walaupun itu harus diulangi sekian kali, sekian puluh kali atau lebih.
Dalam hal itu aja udah asyik, udah nikmat, apalagi sudah mulai mendapatkan untuk dari bisnis anda.
Belajar dari Jack Trout – bagian kedua
Melanjutkan tulisan yang kemarin, tentang Hukum leadership dalam dunia pemasaran, sekarang yang saya sampaikan adalah Hukum kedua, Hukum tentang Kategori:”Jika anda tidak bisa menjadi yang pertama, buat kategori baru dimana anda dapat menjadi yang pertama didalamnya” Kalau ada pertanyaan seperti ini, Siapa orang ketiga yang terbang solo melintasi Samudera Atlantik? Kalau anda tidak tahu siapa orang kedua yang terbang solo melintasi samudera tersebut tentu saja untuk menjawab siapa orang ketiga akan kesulitan. Tapi pada kenyataan orang ketiga ini lebih dikenal, daripada orang kedua, kenapa? Ternyata, orang ketiga, Amelia Earhart, berada dalam kategori baru, yaitu bukan dikenal sebagai orang ketiga, tetapi lebih dikenal sebagai wanita pertama yang terbang solo melintasi Samudera Atlantik. Setelah IBM sukses menjadi perusahaan komputer, semua orang kemudian terjun ke bidang komputer ini, tetapi siapa yang kemudian mengikuti sukses dibidang ini? Jawabannya tidak ada. Baru kemudian perusahaan yang ketujuh belas dan kedelapan belas yang terjun dibidang ini yang berhasil, yaitu Digital Equipment Corporation, DEC. IBM menjadi yang pertama dibidang komputer, tetapi DEC berhasil sukses juga karena menjadi yang pertama di bidang minicomputer. Banyak perusahaan lain (beserta wirausahawannya) menjadi kaya dan terkenal dengan mengikuti prinsip sederhana : “Jika anda tidak dapat menjadi yang pertama dalam suatu kategori, setting kategori baru yang anda dapat menjadi yang pertama didalamnya”.
Belajar dari Jack Trout : Bagian Pertama
“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, saya begitu terkesan dengan kalimat ini, kalo tidak salah ini adalah kalimat Onno W. Purbo di ilmukomputer dot com/org.
Apa yang saya tulis dibawah ini adalah upaya saya untuk mengikat ilmu ini, dan sekedar berbagi untuk teman-teman, siapa tahu akan berguna atau bahkan menjadi tulisan inspiratif. Bahagianya saya jika ini menjadi tulisan inspiratif.
Dalam tulisan ini saya bercerita atau menyampaikan ulang hasil pemahaman saya tentang buku-buku Bapak Jack Trout dan koleganya, salah satunya adalah The Power of Simplicity, buku yang bagus, ditulis berdasarkan pengalaman pengamatan berbagai perusahaan besar yang berkembang didunia ini (Saya juga begitu terpesona buku-buku pak Trout ini karena membacanya seperti membaca komik, mengalir dan enak banget, tidak perlu bersusah payah memahami, karena mengalir seperti dia sedang bercerita).
Tentu saja pengalaman-pengalaman perusahaan yang dikemas menjadi sebuah pengetahuan tidak mesti mudah teraplikasikan dalam konteks dunia usaha kita. Disinilah dibutuhkan kejelian kita untuk mengimplementasikannya. Gagal, salah ataupun dampak yang lebih parah dalam mengimplementasikan masih terasa lebih baik bagi kita sebenarnya, daripada terlalu banyak konsep yang tidak kita implementasikan. Minimal kita mengimplementasikan satu persatu berbagai konsep yang kita pahami (dalam hal ini adalah dunia usaha). Kalau dalam kalimat sederhana saya, berfikir satu bertindak satu.
Pak Trout menuliskan tentang 22 Immutable Laws of Marketing, (terjemahan bebas saya : 22 Hukum Tetap Pemasaran). Dimulai bahwa hukum alam itu ada, tentu tidak mustahil jika hukum pemasaran itu juga ada. Dicontohkan anda mungkin bisa membuat pesawat yang canggih, tetapi anda tidak akan bisa melihat pesawat itu turun mendarat, jika benda itu melawan hukum fisika, terutama hukum gravitasi. Contoh lain anda mungkin bisa membangun bangunan arsitektural nampak megah dan indah di sebuah gumuk pasir, tetapi pada saat ada badai topan besar, yang pasti pertama akan terjadi adalah bangunan tersebut akan terkubur. Anda mungkin bisa membuat program pemasaran yang begitu brilyan, tetapi hanya akan dibutuhkan satu hukum pemasaran saja untuk mengkanvaskan program anda tersebut jika anda tidak mengetahui hukum-hukum tetap pemasaran tersebut.
Hukum pertama :
Hukum Kepemimpinan (Leadership) : Lebih baik menjadi yang pertama, daripada menjadi yang lebih baik.
Masyarakat luas percaya bahwa dasar pemasaran adalah meyakinkan prospek bahwa anda punya produk atau layanan yang bagus. Tapi itu tidak benar, yang tepat adalah anda membuat kategori dimana anda akan menjadi yang pertama.
Untuk menguji usaha anda apakah berada disuatu kategori yang memungkinkan anda menjadi yang pertama adalah tanyakan pertanyaan yang sesifat dengan pertanyaan dibawah ini :
a. Teh botol apa yang pertama di Indonesia? Sosro bukan?
b. Teh botol apa yang kedua di Indonesia?
Akan susah untuk menjawab pertanyaan yang kedua karena banyak vendor minuman kemas yang turun di kategori ini yang muncul setelah Sosro. Dulu sejak kecil saya hanya tahu teh botol itu sosro, saat itu belum ada yang lain. Yang lain baru-baru aja muncul.
Atau pertanyaan seperti berikut :
a. Siapa orang pertama yang menginjakkan kaki dibulan? (Anda tentu bisa langsung menjawab)
b. Siapa orang kedua yang menginjakkan kaki dibulan?(Tentu anda akan kesusahan menjawabnya)
Tidak semua yang pertama berjalan baik, timing menjadi isu yang penting. Siapa tahu kalo “pertama” mu ini mungkin sudah sangat terlambat.
Saya pernah dengar dialog disuatu daerah, konteks dari dialog ini adalah percakapan dua orang yang menanyakan tentang merk motor yang mereka miliki, dialognya seperti ini: “Hondamu apa merknya?” Merek Honda sudah masuk ke benak konsumen, karena dalam konteks Indonesia atau minimal diwilayah itu Honda menjadi merek pertama yang diketahui.
Kunci sukses dari pemasaran (dalam hukum leadership ini) “Menjadi yang pertama di benak konsumen”.
